Potensi Penghasil Madu Ada, Sistem Panen Tidak Lestari

04 Mei 2017, 13:38 | Dibaca : 384

Kubu Raya BCC - Dengan semangat Abdullah membawa ember bewarna putih yang ditentengnya. Parang pendek masih bergantuk di pinggang sebelah kanan. Baju  berlengan pendek serta celana panjang yang dikenakannya untuk ke kebun belum sempat digantinya. Dengan  berbisik Abdullah mengajak  Selamat rekannya untuk memuar lebah yang dijumpainya ketika mencari kayu Senin 01 Mei 2017.

“ Ayo meuar lebah di tanah aku, baru jak aku jumpa pas cari kayu tadi ’’, ajak lelaki yang kerap dipanggil Dola dengan suara pelan.

Tampa berpikir panjang, Selamat langsung mengiakan ajakan Abdullah untuk memur lebah yang di jumpainya. Dengan mengendarai dua buah motor yang dikendarai oleh Ibat dan Fuad mereka langsung menuju lokasi lebah tersebut bersarang.

Kebiasaan orang Padang Tikar ketika menjumpai sarang lebah langsung di puar, kerena kalau tidak langsung di puar akan di puar oleh orang lain. Lebah tersebut bersarang secara liar di pohon-pohon asli. Berbeda seperti yang dilakukan masyarakat Kapuas Hulu yang menggunakan sarang buatan sebagai tempat bersarang lebah.

Sesampainya di lokasi, Dola dan Selamat langsung mempersiapkan peralatan untuk memuar lebah tersebut. Daun kepala kering mereka ikan menjadi satu, kemudian dilapisi dengan daun kelapa yang belum kering agar menghasilkan asap yang lebih banyak.

“ Mat tolong cari tali baruk untuk mengikat ini”, pinta Dola.

“ Mane ada tali baruk Lah”, kata Selamat.

Setelah alat puar sudah lengkap, aku dan Fuad mengambil foto dari jarak jauh.

“ Ambil dari dekat jak. tak menggigit bah lebah itu. Asal jangan kau sentuh kayu tempat bersarangnya itu”, kata Abdullah menganjurkan.

Aku dan Puat mendekati sarang lebah tersebut. Tepat, kami pas benar dibawah sarang lebah tersebut. Setelah merasa cukup dengan gambar dan vidio yang kami ambil. Kami langsung menjauh dari sarang lebah tersebut.

Dengan sedikit pengalaman yang aku ketahui tentang cara memuar lebah secara lestari yang dilakukan oleh masyarakat Kapuas Hulu. Hal itu aku sampaikan ke Abdullah agar memuar lebahnya hanya madunya saja diambil dan anaknya dibiarkan. Supaya induk-induk lebah tersebut kembali lagi ke sarangnya.

Namun hal tersebut tidak berhasil. “ Mane bisa disini ul. Kalau kite tinggalkan abis diambil orang”, Kata Abdullah.

Setelah alat puar siap, Abdullah dan Selamat langsung menuju sarang Labah. Abdullah menghidupkan daun kelapa yang dibuatnya. Asap pun keluar dari daun itu dan lebah yang terganggu dengan asap tersebut lari berlahan. Selamat langsung memanjat pohon tempat sarang lebah tersebut. “ asapnya ditambah lagi, belum mau lari indunya ini”, pinta Selamat.

“ Bawa sini At kasi wak Amat kau”, kata Abdullah.

Setelah Asap makin banyak, induk-induk lebah pun berlarian satu persatu. Ada juga yang tidak lari dari sarangnya. Dengan pisau yang dibawa, Selamat membuang paksa induk-induk lebah yang masih menempel disarangnya tersebut.

Tak sampai lima menit proses pemuaran lebah tersebut berhasil. Anak lebah dan madunya pun disapu bersih.

Belum Ada Sistem Panen Lestari

Penerapan sistem panan lestari terhadap lebah madu di wilayah Padang Tikar masih belum terlaksana. Padahal kalau dilihat dari bentangan wilayah. Padang Tikar adalah kawasan pesisir yang banyak ditumbuhi mangrove. Dengan banyaknya mangrove pakan lebah sudah tersedia dari bunga-bunga mangrove tersebut.

Selamat mengatakan, dua hari lalu di hutan mangrove ada yang dapat madu sampai 10 botol.

“ Dan sistem pengambilannya pun sama seperti yang kita lakukan”, kata Selamat.

Aman selaku sekretaris Desa Sungai Besar menyayangkan proses pengambilan lebah beserta anak-anaknya. Menurutnya sistem seperti itu sama dengan membunuh dan lama-kelamaan lebah tidak mau lagi bersarang.

Untuk di Desa Tanjung Harapan Aman mencontohkan bahwa disana sudah mulai sistem penen lestari terhadap lebah mangrove. Mereka hanya mengambil madunya saja sedangkan anaknya ditinggal.

“ Kita berharap masyarakat desa kita sadarlah. Bahwa kebiasaan lama dalam mengambil lebah harus menggunakan sistem dapat menghasilkan madu secara berkelanjutan”, kata Aman. (Fathul Birri))




Diposting Oleh : Admin BCC
© Copyright LPSAIR 2013

0 Komentar :

(Masukkan 6 kode diatas)





©http://m.borneoclimatechange.org